Opini

Usaha Tutup Bangkit Lagi Karena Malaikat Penolong

Written by Redaksi

Oleh: Fery

BENCANA Gempa Bumi dengan skala 7,4 SR, disusul Tsunami dan liquifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah tidak hanya menimbulkan kerusakan dan kerugian di bidang infrastruktur. Namun juga melumpuhkan sektor ekonomi dan mata pencaharian masyarakat.

Handsanitizer produk SMK Muhammadiyah Minggir

Kecamatan Sirenja merupakan salah satu dari 16 Kecamatan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang terdampak besar terhadap bencana gempa bumi disusul Tsunami. Secara umum, sumber penghidupan masyarakat Sirenja adalah petani dan nelayan. Baik petani maupun nelayan, juga memiliki mata pencaharian lain yang dijalankan oleh keluarga mereka, yakni berupa usaha mikro, baik berupa usaha produksi rumah tangga, bedagang kios kecil-kecilan, maupun jasa berupa salon dan menjahit.

Di Kecamatan Sirenja, menurut informasi dari Ketua PDM Donggala Utara, Ibrahim, Lanapo, bahwa sudah memiliki Pimpinan Cabang. Namun masih sebatas klaim, ibaratnya mati segan hidup tak mau. Sehingga kecamatan ini sama saja belum memiliki cabang, apalagi ranting Muhammadiyah.

Untuk pilihan organisasi, secara umum warga di Kecamatan Sirenja lebih mengenal organisasi Alkhairaat, sebuah organisasi keagamaan yang berpusat di Kota Palu, yang didirikan oleh Ulama asal Hadramaut yang dikenal dengan sebutan Guru Tua. Nama aslinya adalah Said Idrus Bin Salim Aljufri (Sis Aljufri). Organisasi Alkhairaat ini, dalam gerakan dan amalannya, mirip yang dipraktikan Nahdlatul Ulama. Maka tidak heran, sebagian pengurusnya di Palu,  ada yang merangkap sebagai pengurus Alkhairaat sekaligus pengurus Nahdlatul Ulama.

Gerakan Muhammadiyah mulai dikenal di Kecamatan Sirenja, setelah daerah itu dilanda bencana Gempa Bumi disusul Tsunami pada 28 September 2018. Gerakan Muhammadiyah dikenal lewat Relawan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) atau Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah yang turut melakukan Respons bencana di daerah itu.

Mula-mula Muhammadiyah melalui MDMC membuka Pos Pelayanan (Posyan) di Desa Tanjung Padang Kecamatan Sirenja, tepatnya di dusun II, di Rumah H. Sapri Ali, salah seorang warga Desa Tanjung, yang rumahnya tetap kokoh, di saat bersamaan rumah tetangganya roboh dihantam gempa bumi dan Tsunami yang dahsyat.

Seluruh bantuan untuk warga Sirenja, disalurkan melalui Posyan tersebut. Bahkan Muhammadiyah juga menurunkan tenaga Psikososial dan tenaga medis untuk membantu warga Sirenja yang terdampak bencana. Titik-titik pengungsian disisir oleh tim medis dan tim Psikososial Muhammadiyah dibawah kendali MDMC, guna memberikan pengobatan secara cuma-cuma.

Kehangatan sambutan warga Sirenja membuat tim MDMC bekerja dengan baik. Tidak ada rasa penolakan warga akan kehadiran gerakan Muhammadiyah di Sirenja. Meskipun awalnya, masyarakat kurang familiar dengan nama Muhammadiyah maupun MDMC. Akan tetapi, secara perlahan dan pasti, saat ini kecintaan warga Sirenja terhadap Muhammadiyah, khususnya MDMC, telah terpupuk dengan baik.

Sebanyak 21.381 warga Sirenja, yang terdiri dari 10.829 lakilaki dan 10.552 perempuan, nyaris tidak luput dari bantuan Muhammadiyah, khususnya desa-desa yang terdampak luas terhadap bencana Gempa Bumi dan Tsunami.

Setelah masa tanggap darurat selesai, Muhammadiyah melalui MDMC, tetap memilih bertahan di Kecamatan Sirenja. Di saat sejumlah LSM memilih untuk balik kanan, maka Muhammadiyah tetap berada di samping masyarakat Sirenja, untuk terus membantu warga yang terdampak bencana agar pulih secara ekonomi melalui bantuan pemulihan mata pencaharian.

Untuk bantuan mata pencaharian ini, MDMC bekerjasama dengan Solidar Suisse, telah menyerahkan bantuan Mesin Ketinting dan Perahu, masing-masing 218 mesin Ketinting dan 189 perahu berukuran 6 meter, dengan total penerima manfaat sebanyak 268 orang. Kemudian, warga Sirenja, khususnya di Desa Tanjung Padang dan Desa Sipi, juga diikutkan dalam program Cash For Work (CFW) atau program padat karya sebanyak 230 orang.

Sasaran program Cash For Work ini adalah masyarakat terdampak di sektor petani, buruh tani, pedagang kecil dan non PNS. Selain itu, program ini juga diprioritaskan kepada keluarga dengan kepala keluarga perempuan dan lansia. Kelompok sasaran ini mengalami kerentanan cukup tinggi dikarenakan mereka tidak memiliki penghasilan yang tetap akibat bencana alam.

Untuk memulihkan sector ekonomi yang lumpuh akibat bencana alam ini, MDMC yang masih tetap menggandeng Solidar Suisse, juga meluncurkan bantuan pemulihan Usaha Mikro atau dikenal dengan nama Livelihood Recovery of Micro Enterpreneurs in Central Sulawesi.

Dalam program ini, sebanyak 1.300 warga yang disasar. Rata-rata mereka adalah keluarga nelayan dan petani. Program ini, akan berjalan hingga Juni 2020. Namun hingga bulan Februari 2020, sebanyak 860 pengusaha mikro telah menerima bantuan pemulihan usaha.

Sebelum bantuan diluncurkan, penerima manfaat atau para pengusaha mikro ini, diikutkan beberapa pelatihan bisnis. Hingga saat ini, ada empat pelatihan bisnis yang sudah digelar yakni pelatihan perencanaan pemulihan usaha mikro digelar sebanyak 63 kali, kemudian pelatihan Pemasaran Usaha Mikro digelar 2 kali, pelatihan Pembukuan Sederhana Usaha Mikro digelar 56 kali, dan Pelatihan Kewirausahaan untuk Pengusaha Mikro digelar 47 kali. Selain itu, ada juga pelatihan keterampilan. Hingga saat ini, telah digelar pelatihan keterampilan  yakni pelatihan memasak dan membuat bakso ikan sebanyak 7 kali.

Rencananya, akan digelar tujuh pelatihan bisnis, selain empat pelatihan tersebut, juga akan ada tiga pelatihan lagi yakni pelatihan Komunikasi Bisnis untuk Pengusaha Mikro, pelatihan Keaksaraan Keuangan untuk Pengusaha Mikro, dan Pelatihan Pemasaran Digital untuk Pengusaha Mikro.

Program ini, bertujuan untuk berkontribusi pada pemulihan ekonomi yang berkelanjutan bagi populasi penyintas di Kecamatan Sirenja. Fokusnya adalah pengusaha mikro yang akan didukung tidak hanya melalui penggantian asset, tetapi juga meningkatkan keterampilan melalui pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas usaha masyarakat.

Dalam program ini, masyarakat Kecamatan Sirenja, tidak saja sebagai obyek kegiatan tetapi masyarakat dilibatkan secara penuh. Sebelum program diluncurkan diawali dengan Rembuq Desa dan Pembentukan Komite Desa. Kemudian dilakukan pemilihan penerima manfaat yang memenuhi kriteria.

Adapun kriteria penerima manfaat sebagai berikut:

  • Usaha mikro yang sudah ada sejak sebelum bencana tsunami dan gempa bumi
  • Usaha tersebut terdampak oleh bencana
  • Pada saat akan mengikuti program, usaha masih terhenti atau belum pulih sebagaimana sebelum tsunami
  • Pemilik usaha adalah petani/buruh tani dan nelayan atau keluarganya
  • Skala usaha mikro, yaitu yang total asetnya maksimal Rp10juta dan penghasilan per bulan maksimal Rp2 juta.
  • Belum punya solusi atas mata pencaharian, jika tidak dibantu, maka usahanya tidak akan pulih
  • Jika nelayan/keluarga nelayan, belum memperoleh bantuan perahu dan atau mesin baik dari MDMC maupun lembaga lain
  • Bukan PNS, TNI/POLRI
  • Diprioritaskan usaha yang dijalankan oleh perempuan
  • Diprioritaskan dari kelompok rentan: miskin, penyandang disabilitas, janda tua, keluarga dengan anak balita, hidup sebatang kara, keluarga yang anggotanya 5 orang atau lebih.

Selain itu, ada Mekanisme umpan balik sebagai media bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan terhadap pelaksanaan tahapan kegiatan. Umpan balik dari masyarakat dapat disampaikan langsung kepada staf lapangan Selain itu, masyarakat juga dapat menyampaikan masukannya melalui kotak surat, telepon maupun pesan, baik SMS maupun Whatsapp. Mekanisme ini akan dicatat dalam Kobbo Collect yang dilakukan sebagai bagian transparansi program dan partisipatif masyarakat.

Salah satu fungsi dari mekanisme umpan balik ini adalah untuk menampung masukan dan pendapat dari masyarakat yang tidak terekam dalam proses rembug desa maupun proses pemilihan penerima manfaat. Selanjutnya setiap masukan dari masyarakat akan dicatat dan ditindaklanjuti.

Masyarakat Sirenja beranggapan bahwa kehadiran MDMC adalah hikmah di balik bencana. Kehadiran gerakan amal Muhammadyah cukup dirasakan warga. Bahkan saat tim evaluator dari Italia yang dikontrak oleh Solidar Suisse menemui warga Sirenja. Satu hal yang jadi titipan mereka adalah bahwa MDMC harus tetap berada di Sirenja untuk selamanya.

Warga juga mendoakan agar seluruh pengurus MDMC tetap sehat walafiat, sehingga terus bergerak membantu warga, tidak saja di Sirenja, tetapi di seluruh Kabupaten Donggala, dan Sulawesi Tengah, serta Indonesia secara umum, karena dipastikan tidak ada yang mengetahui kapan datangnya bencana.

Seperti yang diutarakan oleh Jamaluddin, salah seorang warga Desa Lompio Kecamatan Sirenja kepada tim evaluator, bahwa kehadiran Muhammadiyah melalui MDMC sangat membantu usaha salon yang digelutinya sejak 2015. Usahanya nyaris tutup karena adanya gempa dan tsunami. Seluruh peralatan salon terhempas air laut. Saat ini, dia bisa kembali membuka usahanya berkat bantuan modal usaha mikro dari MDMC.

Selain itu, pelatihan pembukuan sederhana juga sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, karena telah memberikan pengetahuan kepada warga terkait pendapatan yang diperoleh setiap bulannya. Seperti yang diutarakan oleh Lustin, warga Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja, yang kesehariannya sebagai pedagang kios kecil, mengaku cukup terbantukan dengan pelatihan pembukuan sederhana, karena setelah memiliki pembukuan, Lustin menjadi tahu keuntungan setiap bulan.

Lustin juga mengaku dapat merekam pembelanjaan yang dilakukan. Sehingga diapun berjanji akan tetap menggunakan pembukuan dalam setiap aktivitas jual beli. Lustin juga mengaku, pascagempa usahanya sempat tutup karena kehabisan modal. Saat berada di pengungsian, seluruh perbekalan habis, termasuk jualan habis digunakan saat berada di pengungsian selama 3 bulan. Kehadiran MDMC melalui bantuan modal usaha mikro membantu Lustin untuk bangkit lagi.

Jamaluddin dan Lustin berharap agar Muhammadiyah melalui MDMC tidak meninggalkan Sirenja, karena MDMC bagi mereka adalah malaikat penolong dalam memulihkan mata pencaharian yang terpuruk saat bencana alam. Usaha tutup bangkit lagi karena malaikat penolong.(**)

*) Fery, Ketua  Pemuda  Muhammadiyah Sulawesi Tengah Periode 2014-2018

About the author

Redaksi

Leave a Comment