Opini

Pesantren Muhammadiyah Sebagai Ujung Tombak Pendidikan Budi Pekerti

Written by Redaksi

Oleh : Irham Wibowo

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa, dan negara.[1] Sedangkan menurut Soekidjo, pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.[2]

Sayangnya kini wajah dunia pendidikan tanah air lebih banyak dihiasi dengan perbuatan kriminal dan amoralitas. Hal itu sejatinya tak bisa dilepaskan begitu saja dari pengaruh budaya global yang telah merongrong jiwa anak didik kita. Di sisi lain pendidikan moral dan keagamaan tidak menjadi syarat utama dalam proses pembelajaran pada lembaga pendidikan formal di Indonesia. Penekanan pola pendidikan semacam itu seakan menafikan tumbuh kembang anak didik untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai dengan cita-cita mulia konstitusi bangsa Indonesia.[3]

Atmosfer pendidikan di tanah air lebih banyak terhegemoni oleh kemahailmuan dunia Barat. Acap kali terdengar dalam proses belajar mengajar di ruang kelas, bagaimana dominannya teori-teori asing yang dicetuskan oleh ilmuan asal Eropa dan Amerika yang memenuhi catatan pada buku-buku pegangan anak-anak didik kita. Pengaruh westernisasi akan menjadi konyol ketika kita menganggap bahwa teori tersebut mempunyai kecocokan dengan kejiwaan dan perilaku masyarakat di tempat lain. Lantas kemudian sekonyong-konyong menjadikannya sebagai tolok ukur dan logika berpikir dalam dunia pendidikan di negeri ini.

Ditambah lagi dengan runyamnya dunia pendidikan Indonesia apabila diisi oleh segolongan manusia pengeruk pundi-pundi rupiah. Sekolah atau kampus tak ubahnya menjadi ladang investasi bagi para guru/dosen dan karyawannya, bahkan tidak menutup peluang bagi aparatur pemerintahan yang nakal untuk ikut serta ‘mandi’ dalam kubangan kotor ini. Bisa dipastikan bahwa yang muncul kemudian adalah patologi sosial yang bernama diploma disease.[4] Orang tua selaku wali siswa/mahasiswa berbondong-bondong menyerbu sekolah atau kampus favorit dan rela merogoh koceknya lebih dalam agar buah hati mereka mendapatkan ijazah dan gelar pendidikan bergengsi.

Memang hingga saat ini pendidikan diyakini sebagai sesuatu yang penting dalam peradaban dan keberlangsungan hidup umat manusia. Misalnya pada masyarakat Eropa, keyakinan terhadap pendidikan memunculkan ide-ide progresif seperti academia, school, pedagogi, andragogi, dan lainnya. Berkelindan dengan peradaban Barat, masyarakat di belahan Timur pun memiliki konsep serupa antara lain madrasah, majlis, jami’ah, halaqah, grahavidya, padepokan, pesantren, dan sebagainya. Kesemua ide tersebut kini telah menjelma menjadi lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas masing-masing.[5]

Dari penamaan tempat-tempat itulah lantas kita mengenal hingga saat ini dua klasifikasi pengelompokkan manusia, yang pertama adalah yang dididik alias siswa, dan yang kedua adalah pendidik alias guru/dosen. Siswa adalah golongan yang harus selalu dibimbing, dibina, dan diarahkan. Sedangkan pendidik atau guru adalah golongan yang membimbing, membina, dan mengarahkan siswa. Seorang pendidik selalu dipandang sebagai manusia yang cerdas dan berlimpah ilmu pengetahuan. Sayangnya penyebutan bagi kaum terdidik masih dilabeli kepada mereka yang memiliki kelebihan ilmu pengetahuan.

          Pendidikan pada dasarnya lebih signifikan bila dibangun dari diri sendiri. Generasi terdahulu, seperti orang tua, orang dewasa, guru, atau pun dosen sepatutnya mendudukan diri mereka sebagai mitra bagi anak didiknya. Mereka dapat memfungsikan dirinya sebagai tokoh dalam hal keteladanan (longum iter est per praecepta, breve et efficax exempla yang artinya melalui perintah jalannya panjang, melalui teladan jalannya pendek dan efektif).[6] Bisa juga generasi yang lebih dulu eksis menempatkan dirinya sebagai mitra yang sejajar atau sebagai pemberi dorongan motivasi. Proses pendidikan harus memusatkan kepentingannya pada anak didik. Penjelasan di atas memberi pencerahan kepada kita bahwa pendidikan tidak sekadar proses belajar dan mengajar saja. Proses pendidikan sifatnya tidak terbatas pada ruang dan waktu di mana guru dan murid, atau dosen dan mahasiswa, berada dalam satu ruang kelas dan bertatap muka di hari-hari tertentu.

Maka tak salah ketika menyebut agama menjadi landasan dasar dalam pendidikan. Agama menuntun kepada kebahagiaan dan menunjuk kepada kebenaran. Pendidikan Islam diartikan sebagai usaha pendewasaan manusia. Al-Qur’an menjadi asas dalam pendidikan Islam yang bertujuan untuk mentauhidkan diri hanya kepada Allah. Dalam konsep pendidikan Islam bertauhid kepada Allah merupakan bahtera yang bisa mengantarkan manusia pada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Maka prioritas utama dalam pendidikan Islam selain dari aspek pengembangan keilmuan, juga membentuk manusia menjadi insan yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi orang banyak.[7]

Karakteristik pendidikan Islam tidak mungkin dilepaskan dari ketentuan dan nilai-nilai ajaran Islam. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia untuk dijadikan sebagai khalifahAllah di muka bumi dan mengatur alam semesta. Pendidikan dalam Islam tidak bisa dipahami secara sempit, yang hanya diartikan sebagai transfer ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, atau pengajaran dari senior kepada juniornya. Apabila pendidikan semata-mata dipahami sebagai aktivitas yang di dalamnya mengandung pemindahan ilmu pengetahuan dan keterampilan lainnya, maka tak ubahnya pendidikan seperti bahan lama yang didaur ulang setiap muncul generasi baru.

Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk mengembangkan potensi manusia. Melalui pendidikan, potensi karakter, fisik, akademik, dan keterampilan sosial manusia dapat dikembangkan. Perlu digarisbawahi, hakikat dasar pendidikan bukan sekadar transformasi ilmu pengetahuan, dan bukan pula kegiatan belajar mengajar yang diatur berdasarkan jam sekolah atau SKS semata.[8] Lebih dari itu, pendidikan adalah metode pendewasaan bagi peserta didik untuk menyelami dinamika kehidupannya secara komprehensif, karena pendidikan yang hanya mengejar penguasaan ilmu pengetahuan akan melahirkan manusia yang cerdas namun karakternya dipertanyakan alias berilmu tapi tak berakhlak. Justru muaranya dapat berakibat pada iklim pendidikan di sekolahan yang menjurus pada pemakluman praktik-praktik yang tidak edukatif, seperti perploncoan, geng sekolah, tawuran, pacaran, dan sebagainya.

Maka di sinilah pesantren hadir untuk melaksanakan fungsinya memperadabkan (memuliakan) manusia. Pesantren hadir sebagai langkah untuk mengeliminir disparitas antara ilmu pengetahuan dengan praksis ilmu-ilmu tersebut. Pesantren menempa manusia-manusia di dalamnya agar menjadi insan kamil,[9] karena sejatinya manusia diciptakan berbeda dengan hewan yang hanya memiliki naluri atau nafsu. Manusia selain memiliki naluri, juga dianugerahi akal pikiran. Melalui akal yang dimilikinya, manusia dapat merubah tatanan praksis kehidupan sosial ke arah yang lebih baik.

Pesantren adalah lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi Islam yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, menyemaikan akhlak mulia, serta memegang teguh ajaran Islam yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, moderat, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.[10] Menyebut kata pesantren, terbersit pertama kali dalam benak pikiran kebanyakan orang di Indonesia adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang dihuni oleh anak-anak muda baik putra atau pun putri yang tinggal dan hidup bersama-sama dalam satu tempat. Santriwan adalah sebutan bagi para pelajar laki-laki, sedangkan santriwati adalah sebutan bagi pelajar perempuannya.[11] Warga pesantren baik pimpinan, pengajar, maupun pelajarnya, setiap hari dibudayakan untuk bersikap dan berperilaku sesuai tuntunan al-Qur’an dan tauladan baginda Nabi Muhammad.

Mendidik santri agar menjadi generasi emas di mulai dari penanaman sikap jujur. Jujur adalah kata yang menjadi roh seorang santri. Tidak ada gunanya belajar di pesantren jika hasil akademik diperoleh dari perbuatan curang, semisal menyontek dan bekerja sama ketika ujian. Namun pesantren tidak ujug-ujug mendepak santri yang mempunyai kekurangan di bidang akademik. Pengajar di kelas tetap melihat dari sisi yang lain, apakah si anak masih memiliki semangat (ghiroh) untuk belajar atau tidak. Untuk urusan rapor, pesantren memang dikenal berani memberikan nilai jauh di bawah standar jika hasil ujian berkata demikian, daripada harus memberikan nilai yang bagus namun dari hasil kecurangan.

Di luar ruang kelas pun, santri kembali dintuntut untuk berperilaku jujur, salah satunya ketika jajan di koperasi pesantren. Soal urusan perut ini akan menguji seberapa kuat santri menahan hawa nafsunya untuk tidak mencuri makanan atau jajan di saat saldo (uang) yang dimilikinya tidak mencukupi. Dari sini akan muncul rasa kebersamaan dan saling berbagi antarsantri, ketika ada teman yang tidak bisa jajan, maka santri lain (yang uangnya berlebih) akan mengajaknya makan bersama, sehingga kebiasaan makan kembul (bersama) biasa terjadi di pesantren.

Ketika jujur sudah menjadi kebiasaan (habitual action) seorang santri, sikap berikutnya yang tumbuh adalah taat terhadap aturan dan perintah. Memang peraturan di pesantren bisa dibilang ketat dibanding sekolah umum. Santri dilarang menggunakan media elektronik sesuka hati, tidak boleh kontak dengan lawan jenis, bahkan bertemu dengan orang tua mesti disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.

Kebiasaan hidup seorang santri yang jujur dan taat pada aturan akan menelurkan output berupa sikap kritis terhadap lingkungan sekitar. Sikap kritis dalam hal ini penulis sebut dengan amar makruf nahi mungkar alias perintah untuk mengajak pada hal-hal yang baik dan mencegah pada hal-hal yang buruk. Tak heran jika alumni pesantren kebanyakan menjadi juru gedor perubahan di masyarakat, seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hisyam, KH Mas Mansyur, KH Faqih Usman, KH Ahmad Badawi, KH Ibrahim, KH Fakhruddin, KH Din Syamsuddin, dan lainnya. Alumni pesantren di mana pun berada tak ubahnya seperti pemimpin rohani di masyarakat. Petuah dan wejangannya selalu dinanti-nanti umat. Ketika sudah ditokohkan, maka konsekuensinya ia harus mampu menjaga diri, perilaku, perkataan, dan perbuatan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebuah adagium bijak di lingkungan pesantren, bahwa ucapan dan perilaku sehari-hari seorang santri berasal dari Qallahu ta’ala (firman Allah dalam al-Qur’an) dan Qala Rasulullah (sabda Nabi Muhammad).

Pesantren Modern Muhammadiyah yang jamak kita kenal dengan nama MBS merupakan amal usaha tumpuan umat guna meluruskan akhlak dan perilaku generasi muda muslim yang selama ini masih bengkok, guna menyucikan akidah mereka yang masih kotor, dan guna membersihkan hati-hati mereka yang terkotori dengan perbuatan maksiat. MBS memberi bukti kepada khalayak ramai bahwa mencerdaskan putra-putri bangsa tidak hanya dikejar melulu dari hasil akademik. Harapannya tidak muluk-muluk, anak-anak yang sudah selesai mengenyam pendidikan di pesantren Muhammadiyah mampu menjadi teladan di lingkungannya masing-masing untuk mengajak pada kebaikan dan menjauhi yang dilarang.

Ibnu Khaldun menulis dalam Muqaddimah al-‘Ibar, kemerosotan peradaban suatu bangsa disebabkan oleh sikap masyarakatnya yang gemar hidup congkak dan bermegelimang harta. Tidak menutup kemungkinan, bangsa semacam itu akan lenyap ditelan zaman dan digantikan oleh peradaban bangsa lain. Ibnu Khaldun menambahkan, kelanggengan peradaban sebuah bangsa berkorelasi dengan tata kehidupan moralitas (adab) masyarakatnya. Maka ranah pendidikan sudah selayaknya tidak lagi dijadikan sebagai biang kerok munculnya raja-raja kecil di sekolahan atau perguruan tinggi. Pendidikan hadir menjadi media perbaikan moral dan akhlak setiap warga negara seperti yang dicita-citakan UUD Negara RI Tahun 1945 pada Pasal 31 ayat (3).


[1] Lihat Bab 1 Pasal 1 angka 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

[2] Soekidjo Notoatmodjo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 13.

[3] Lihat Bab XIII Pasal 31 ayat (3) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Cet. 12 (Jakarta: MPR RI, 2013), hlm. 163.

[4] Diploma disease adalah istilah yang dicetuskan oleh Ronald Dore pada tahun 1976 sebagai bagian dari kritiknya terhadap ketergantungan berlebihan pada proses seleksi di lembaga pendidikan formal (karena kualifikasi pendidikannya) yang outputnya menjadi bukti kemampuan, keterampilan, dan prestasi untuk masuk dalam pekerjaan tertentu, karier, atau pasar kerja. Konsekuensi yang tidak disengaja dari keyakinan tersebut membuat sertifikat pendidikan menjadi kunci untuk memperoleh pekerjaan dengan upah terbaik, sehingga orang-orang berusaha mendapatkan status (kredensi) yang lebih tinggi. Pendidikan yang demikian hanya menjadi proses akumulasi ritualistik. Diakses dari ecyclopedia.com pada 11 Januari 2020.

[5] Tegus Wangsa Gandhi HW. Filsafat Pendidikan, Cet.1 (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 19-20.

[6] Salah satu penggalan kalimat dalam surat yang ditulis Seneca kepada Lucilius. Diakses dari https://www.uc.ac.id/library/pendidikan-politik-kebhinekaan-kompas-24-november-2017-hal6 pada 12 Januari 2020.

[7] Didin Hafidhuddin. Dakwah Aktual, Cet. 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 105.

[8] Suparlan Suhartono. Filsafat Pendidikan, Cet. 2 (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 29.

[9] Muhmidayeli. Filsafat Pendidikan, Cet. 1 (Bandung: Refika Aditama, 2011), hlm. 66.

[10] Pengertian pesantren pada Ketentuan Umum Bab 1 Pasal 1 angka 1 dalam UU Nomor 18 Tahun 2019.

[11] Lihat Ahmad Muhakamurrohman. Pesantren: Santri, Kiai, dan Tradisi. Jurnal Ibda’ Kebudayaan Islam, Vol. 12, No. 2 (Desember 2014), hlm. 112.

About the author

Redaksi

Leave a Comment