Opini

Muhammadiyah Tidak Populer di Dunia Maya

Written by Redaksi

Oleh : Intan Wahyu Permana

IoT atau Internet of Things adalah sebuah mahakarnya yang terus akan berkembang dan tidak pernah memiliki devinisi tetap, sangat dinamis mengikuti perkembangan zaman. Secara sederhananya IoT adalah sebuah konsep transaksi data yang memiliki kemampuan melakukan transfer melalui jaringan tanpa harus terjadi interaksi atau pertemuan langsung antar manusia ke manusia lain.

Sumber: pixabay.com

Dengan adanya internet kita dapat dengan sangat mudah menemukan apa yang kita ingin ketahui tanpa harus pergi menemui orang yang lebih berkompeten dibidangnya ataupun membeli buku ilmu pengetahuan untuk sekedar mencari tahu jawaban. Masyarakat melek teknologi ketika mendapati soal mengenai Agama misalkan, yang pertama kali mereka pikirkan bukan menemui seorang Ustadz untuk bertanya ataupun membeli buku agama yang mampu membantunya mencari jawaban atas pertanyaanya, akan tetapi yang mereka lakukan adalah membuka gadgetnya dan langsung mencarinya di ruangan besar yang bernama maya.

Dengan adanya internet dan perkembangan dakwah saat ini, permasalahan apapun dapat kita cari tahu jawabannya di internet, namun perkembangan dakwah melalui media internet sangat jauh dari nama besar Muhammadiyah. Jika kita memasukan kata kunci umum di Google misalkan mengenai referensi-referensi ilmu agama, maka kita akan membutuhkan beberapa langkah untuk menemukan referensi dari Muhammadiyah, yang muncul paling atas justru dari kawan-kawan kita yang lainnya.

Fenomena hijrah yang saat ini terjadi di Indonesia mulai masuk ke wilayah strategis dalam berdakwah.Pengoptimalisasian Internet dan media sosial, sekolah dan yayasan, tempat tahfidz dan tahsin Al Qur’an, percetakan buku, membentuk forum pengajian-pengajian, komunitas-komunitas, hingga membuat TV dan Radio. Akan tetapi sekali lagi fenomena hijrah ini sama sekali tidak identik dengan Muhammadiyah.

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Rahmat Hidayatullah mengatakan bahwa kelompok-kelompok penyebar paham hijrah ini sangat jenius, paham teori komunikasi dan pengoptimalan teknologi informasi. Walhasil saat ini sangat terasa efeknya. Media sosial dan situs-situs Islam mereka menjadi yang teratas muncul dan sekali lagi situs-situs dan media sosial itu sama sekali tidak identik dengan Muhammadiyah.

Sedikit bercerita, Saya pernah bekerja di satu anak perusahaan BUMN di Indonesia, kebetulan saya berada di sebuah divisi yang khusus menangani gejala sosial dan pertumbuhan market anak muda. Awal pertama masuk saya sedikit bingung juga dengan divisi ini, terlihat aneh dan masih asing ditelinga orang pada umumnya. Setelah saya bertanya kepada atasan saya mengenai cikal bakal divisi itu diadakan, beliau menjelaskan bahwa perusahaan melihat konsumen produk perusahaan itu adalah orang dewasa yang anak menua, maka apabila perusahaan tidak mengikuti perkembangan zaman dan menggaet konsumen dari kalangan muda maka saat konsumen loyalnya menua dan meninggal maka marketnya akan mati juga. Sedangkan perusahaan lain yang masih merintis membaca peluang itu membangun pasarnya melalui anak muda dan terrencana, apabila kompetitor seperti ini tidak segera diatasi, bisa jadi di kemudian hari lambat laun menjadi penguasa baru di masa depan.

Dalam berbagai diskusi para pemilik dan pelaku usahapun saya yakin saat ini sedang banyak membicarakan perkawinan silang antara perusahaanya dengan teknologi informasi di era Revolusi Industri 4.0. lantas bagaimana dengan dakwah Muhammadiyah? Kita tentu sangat tahu bahwa Muhammadiyah mempunyai basis masa dan amal usaha yang begitu banyak di Indonesia, yang seharusnya dengan algoritma internet Muhammadiyah mampu viral dengan mudah baik situs-situsnya maupun media sosialnya. Akan tetapi model dakwah melalui media sosial Muhammadiyah belum begitu ketara dalam artian kuantitasnya dibandingkan dengan kelompok lain yang terlihat minoritas secara jumlah nyata namun mampu memimpin dalam jumlah maya sehingga mampu menggiring opini-opini besar.

Dakwah mereka juga didukung begitu banyaknya Pubic figure yang masih muda dan memiliki banyak fans turut serta meramaikan fenomena hijrah membuat diri mereka menjadi panutan bagi fans yang simpati melihat kisah hijrah mereka. Para artis yang hijrah banyak melakukan roadshow bertajuk hijrah, dimana mereka tidak mendakwahkan ilmu Fiqih, Akidah ataupun Faraidh melainkan hanya membagikan kisah hijrah mereka dan testimoni-testimoni perasaan setelah berhijrah yang ternyata dengan cepat mampu mengajak kaum muda untuk berhijrah bersama sang idola.

Kita tentu masih ingat ketika pada oktober tahun lalu Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei mengenai tokoh agama/ulama yang mempunyai pengaruh elektoral dan imbauannya paling didengarkan oleh masyarakat. Mayoritas tokoh diantaranya tidak berasal dari dua kelompok besar Muhammadiyah. Ini saja menurut saya bisa dijadikan parameter bagaimana peranan sosial media dapat mempengaruhi masyarakat.

Di era revolusi industri 4.0 segala aspek kehidupan manusia mengalami banyak perubahan dan kemajuan baik secara ide kreatifitas, produktifitas maupun komunitas. Dakwah saya rasa juga seperti itu, banyak kampus Islam di Indonesia yang membuka jurusan Komunikasi dakwah, atau jurusan penyiaran Islam yang tentunya diharapkan mampu menjadi pioner penyebaran agama melalui teknologi informasi.

Profesor Rhenald Kasali dalam banyak seminar bisnisnya mengatakan bahwa siapapun yang tidak mau berubah mengikuti perkembangan zaman dan hanya berharap pemerintah mengambil kebijakan yang menguntungkan idealisme mereka, maka mereka tidak akan bertahan lama keberlangsungannya. Saya rasa begitu juga dengan dakwah, apabila kita hanya berkutat dengan cara-cara konvensional dalam berdakwah dan terus saja idealis dengan metode dakwah yang seperti itu-itu saja maka saya kira Muhammadiyah bisa jadi tidak laku dimasa mendatang. Dakwah di dunia maya yang didominasi generasi muda sebagai perwujudan post Islamisme ini kedepan bukan tidak mungkin akan menjelma menjadi kelompok masa yang baru dan besar.

*) Intan Wahyu Permana, Penulis Buku Rumus Persamaan Hati

About the author

Redaksi

Leave a Comment