Opini

Dalam Bayang Sang Surya

Written by Redaksi

Oleh : R. Adji Suryo Utomo (Suryo)

Muhammadiyah adalah sebuah gerakan yang memiliki visi besar demi agama, nusa, dan bangsa. Muhammadiyah bukanlah partai politik yang hanya berfokus pada kepentingan dan kekuasaan. Lebih dari itu, Muhammadiyah bergerak dalam berbagai bidang yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Budaya, Keamanan, dan bidang lainnya. Dikutip dari detiknews.com bahwa gerakan dakwah melalui pendidikan adalah salah satu kontribusi paling nyata dari keberadaan Muhammadiyah sejak berdiri seabad silam. Hingga tahun 2015, Muhammadiyah sudah membangun sebanyak 5.264 sekolah di seluruh Indonesia. “Secara kuantitatif, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah) mengelola sebanyak 5.264 sekolah,” terang ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah Prof. Baedhowi dalam laporannya seperti dikutip detikcom, Kamis (6/8/2015).

Sumber: Lazismu

Secara rinci, SD ada sebanyak 1.064 sekolah, SMP 1.111 sekolah, SMA 567 sekolah, dan SMK 546 sekolah. Kemudian Madrasah Ibtidaiyah (MI) ada 1.188 sekolah, Madrasah Tsanawiyah (MTs) 521 sekolah, Madrasah Aliyah (MA) 178 sekolah, dan pondok pesantren sebanyak 89. Segala lembaga pendidikan yang sudah didirikan oleh Muhammadiyah adalah bukti komitmen Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang juga senada dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Muhammadiyah telah berusia 107 tahun pada 2019 yang lalu. Segala rekam jejak perjalanan perjuangan para pendiri Muhammadiyah masih jelas membekas dalam sanubari dan banyaknya bangunan pendidikan yang kokoh berdiri. Dari sabang sampai Merauke, Muhammadiyah berkontribusi dalam membangun peradaban yang mempunyai jatidiri literasi. Indonesia atau Nusantara ini jelas menyaksikan kebulatan tekad dan jihad pendidikan yang diperankan Muhammadiyah. Muhammadiyah melakukannya dengan sungguh-sunguh. Muhammadiyah mengupayakan kemerdekaan yang bukan hanya fisik saja namun juga kemerdekaan pikiran, kemerdekaan jiwa raga melalui tradisi ilmu yang mencontoh Rasulullah Muhammad SAW dalam masa abad pembaharuan islam Indonesia. Padahal, pada saat itu  adalah awal abad perubahan sosial yang sifatnya progresif di tengah pahitnya penjajahan. Resiko besar bergerak dalam bidang ini, namun langkah besar diambil oleh Muhammadiyah. Kita sekarang telah dapat menyaksikan dan menikmati karya perjuangan para pendahulu. Tugas para generasi selanjutnya  adalah melanjutkan dan mengembangkannya.

            Pada masa kini, Muhammadiyah telah banyak berbenah dan berubah. Kiai Haji Ahmad Dahlah, pendiri Muhammadiyah pernah berpesan “Hendaklah warga muda-mudi  Muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan dimana dan kemana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan professional, lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.” Pada kalimat tersebut mengandung makna yang mendukung para pemuda Muhammadiyah baik putra maupun putri untuk menjadi ahli di bidangnya lalu membangun Muhammadiyah. Bisa juga diartikan semua yang memiliki ilmu, kompetensi, harta, kembalilah untuk membangun Muhammadiyah. Bukan diartikan sempit hanya untuk Muhammadiyah itu sendiri, namun melalui Muhammadiyah untuk membangun negeri.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perjalanan masa, ada masalah yang mengganggu asa membangun peradaban bangsa. Hal pertama yang menjadi masalah adalah para siswa-siswi dalam perguruan Muhammadiyah belum tentu sepakat bahwa dirinya adalah seorang Muhammadiyah. Sekolah bisa jadi Muhammadiyah, namun dalam dirinya, perilakunya, aktivitasnya, keluarganya, belum tentu berMuhammadiyah. Anak yang sekolah di TK hingga SD bisa jadi memang karena orang tua ingin menanamkan bekal pendidikan islam pada anak. Selain biaya pendidikan tingkat TK dan SD yang masih terjangkau, TK dan SD Muhammadiyah dapat dikatakan lebih banyak jumlahnya daripada TK dan SD negeri. Selain menjadi positif bagi perguruan Muhammadiyah karena daya tampung sekolah Muhammadiyah yang banyak, hal ini bisa menjadi awal dari masalah yang mungkin tidak disadari. Majelis Dikdasmen dalam hal ini seharusnya memberi penguatan nilai identitas dalam diri para pelajar Muhammadiyah. Meskipun sudah dibekali dalam pembelajaran Kemuhammadiyahan yang berisi sejarah dan segala tentang Muhammadiyah, sepertinya itu hanya pelajaran hafalan yang biasa seperti menghafal pelajaran IPS atau PKn. Para pelajar Muhammadiyah juga telah diikat janji melalui janji pelajar Muhammadiyah, namun janji itu juga seakan berawal dan berakhir di upacara bendera. Sedari TK sampai SD, masih banyak anak memahami nilai Muhammadiyah hanya sebagai yang dihafal, belum sampai yang diamal. Hal ini tidak sebanding dengan pendidikan pesantren atau sekolah swasta lain yang sedari dini sudah menanamkan identitas kuat bahwa dirinya adalah seorang santri, maka harus ikut kiai dalam organisasi berlambangkan bumi.

            Hal kedua yang menjadi masalah adalah sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah swasta terkesan sebagai sekolah “tampungan” atau sekolah anak yang tidak diterima di sekolah negeri. Orang tua yang menginginkan pendidikan terbaik dari kalangan umum akan mengupayakan anaknya untuk masuk ke dalam sekolah negeri karena biaya yang murah serta sesuai standar nasional pendidikan. Anak yang tidak diterima di sekolah negeri selanjutnya akan dicarikan sekolah yang relatif murah dan mudah dicari di lingkungan sekitarnya. Alhasil, sekolah Muhammadiyah menjadi pilihannya. Dibandingkan sekolah islam terpadu, memang sekolah Muhammadiyah lebih murah biayanya. Tidak banyak orang tua yang benar-benar menghendaki anaknya disekolahkan di Muhammadiyah, maka yang ada hanyalah kata-kata “Memangnya mau sekolah dimana lagi?” Ketika nilai ujian nasional seadanya, maka orang tua akan mencari jalan alternatif melalui sekolah swasta di Muhammadiyah. Bagi para kaum keluarga Muhammadiyah pasti ada yang selalu menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah, tapi jika ada pilihan lain, faktanya banyak juga yang memilih sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan perguruan tinggi (PT) negeri. Masalah ini akan menyebabkan permasalahan selanjutnya.

            Hal ketiga adalah masalah sumber daya manusia. Hasil dari proses pengkaderan melalui pendidikan tidak berjalan maksimal, karena pelajar yang masuk perguruan Muhammadiyah tidak sepenuhnya berjatidiri dan mau beridentitas Muhammadiyah dalam kehidupan di luar sekolahnya. Tidak jarang, sekolah berlabel Muhammadiyah memiliki gank pelajar yang meresahkan, contohnya di Yogyakarta. Siapa pelajar yang tidak kenal dengan MIZOH (SMP Muh 1), MOECHILD (SMP Muh 2), MOENEX (SMP Muh 3), REMOVT (SMP Muh 4) Coezmoe (SMP Muh 5), RANGER (SMA Muh 2), GRIXER (SMA Muh 3) RESPECT (SMA Muh 7), dan nama-nama lain yang turut menodai citra pelajar di Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. Hal ini menjadi keprihatinan bukan hanya karena keberadaan gank tersebut, namun bagaimana pendidikan masa remaja atau akil baligh yang bermakna telah berakal dan sudah dibebani kewajiban. Pada usia remaja ini, dibandingkan yang sekolah di pesantren akan sangat jauh kualitasnya. Tentu, di pesantren tidak aka nada nama gank setenar nama-nama di atas pada suatu kota. Pada usia ini mungkin mereka membawa bendera nama gank yang juga mewakili sekolah, namun sejatinya mereka tidak benar-benar membela sekolahnya yang berlabelkan Muhammadiyah. Mereka hanyalah membela kelompoknya yang selalu duduk, bercengkrama, makan, dan minum bersama bahkan bisa jadi berkelahi antar gank bersama. Disaat para santri sudah menghafal kitab kuning, nahwu, dan sharaf mungkin para pelajar Muhammadiyah jalur sekolah formal jauh tertinggal.

            Dalam kritik yang penulis sampaikan, tak elok jika penulis tidak memberikan saran berupa gagasan yang konkret bagi para pemikir, penggerak, baik di atas hingga akar rumput. Penulis adalah alumni dari sekolah yang berbeda-beda. Mulai dari pendidikan islam moderat milik Bapak Dr. H. Amien Rais (Budi Mulia Dua), sekolah Muhammadiyah, hingga sekolah menengah dan perguruan tinggi negeri telah diarasakan. Penulis menyadari peran penting Muhammadiyah sebagai gerakan yang menyumbang ide, tenaga, dan harta yang tidak sedikit bagi bangsa Indonesia. Namun, apa yang Muhammadiyah tanam seeloknya sesuai dengan yang dituai. Penulis merasa sangat miris bila sumber daya hasil pendidikan yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan para pendiri Muhammadiyah yang telah berjuang dengan keringat bahkan darah. Berikut adalah saran yang diharapkan membangun oleh penulis yang masih perlu banyak belajar ini.

  1. Meningkatkan integritas dan integrasi yang jelas antara ortom dan amal usaha Muhammadiyah (AUM)

Integritas dibangun melalui pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan. Saat pelajar Muhammadiyah berada di sekolah, ia harus dibimbing oleh guru yang benar-benar memiliki ruh dan spirit Muhammadiyah, bukan hanya orang yang ingin mencari hidup di AUM namun tidak memiliki spirit berkontribusi dalam ortom Muhammadiyah. Misalnya, setiap guru wajib aktif dalam kajian Ranting/ Cabang/ Wilayah dalam waktu sepekan minimal sekali. Setiap guru juga wajib memiliki nomor anggota Muhammadiyah (NBM) atas rekomendasi pimpinan terkait. Setiap siswa (sekolah menengah) juga wajib aktif dalam ortom, bisa melalui IPM atau IMM, atau aktif dalam Angkatan Muda Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyatul ‘Aisyiyah yang dibuktikan dengan bukti keaktifan berupa  dokumentasi, presensi, sertifikasi dari kegiatan yang diikuti. Hal ini perlu terintegrasi dari sekolah, keluarga, dan masyarakat sehingga tercipta Muhammadiyah yang benar-benar hidup, bukan hanya sebatas seragam sekolah atau pelengkap pekerjaan semata.

  • Melakukan kaderisasi keluarga Muhammadiyah melalui tangan panjang Lazis Muhammadiyah (LAZISMU)

Amal usaha yang dahulu dilakukan KHA. Dahlan setelah mendirikan langgar adalah menyantuni kaum yang membutuhkan. Dalam membentengi kaum muslimin dari himpitan ekonomi, ada baiknya lazismu bergerak lebih fleksibel dari yang awalnya door to door menjadi lebih melek teknologi. Lazismu dapat berperan dengan membuat aplikasi donasi yang bisa diakses setiap saat untuk bertransaksi dan dilengkapi laporan yang mengedepankan transparansi. Fokus lazismu adalah meningkatkan kesejahteraan keluarga Muhammadiyah dan kaum muslimin yang benar-benar membutuhkan pertolongan melalui zakat, infaq, dan shodaqoh yang terkumpul. Tidak berhenti sampai memberi, lazismu juga dapat memberdayakan dengan melakukan pelatihan entrepreneur, networking, digital marketing, dan sebagainya.

  • Adanya integrasi amal usaha Muhammadiyah (AUM) pada sektor yang berkaitan

Kesejahteraan guru/ karyawan yang bekerja di Muhammadiyah adalah bergantung pada pemasukan masing-masing AUM. Misalnya, gaji awal guru sekolah dasar Muhammadiyah Demangan dengan SD Muhammadiyah Deresan akan berbeda. Semuanya berdasarkan pemasukan sekolah masing-masing. Dalam hal ini, diharapkan diadakan distribusi pendapatan yang terstandar dari pimpinan wilayah/ cabang/ ranting terkait sehingga tumbuh kesejahteraan dengan azas keadilan sosial yang adil dan beradab. Gaji guru/ pegawai dapat meningkat dengan tolak ukur prestasi dan lama masa mengabdi.

Sebagai penutup artikel pendidikan yang sederhana ini, penulis memiliki keyakinan bahwa negara baik jika masyarakatnya baik. Masyarakat baik jika sekolahannya baik. Sekolahannya baik jika keluarganya baik. Maka semua kebaikan itu sebenarnya berawal dari keluarga. Dalam pendidikan, tentu juga berawal dari keluarga. Hal itu sesuai dengan syair dari negeri Arab “Al Ummu Madrasatul Ula” yang artinya Ibu adalah sekolah utama bagi anaknya.

Dalam berMuhammadiyah, bangunan itu sudah kokoh. Sang Surya telah bersinar. Namun, dimana posisi kita bergantung pada peran kita. Apakah kita bisa menjadi bagian dari sinarnya, atau hanya menjadi bayangannya yang semu? Itu tergantung pada diri kita.

*) R. Adji Suryo Utomo (Suryo), Anggota Pemuda Muhammadiyah Cabang Kasihan

About the author

Redaksi

Leave a Comment