Opini

Belajar dari KH. Ahmad Dahlan

Written by Redaksi

Oleh: Ahmad Jamaludin

Sang Pencerah, KH. Ahmad Dahlan telah tiba dari Mekkah pada 1905, kali
kedua beliau pergi ke Mekkah selama 2 tahun. Selanjutnya di Kampung Kauman,
Yogyakarta, ia meneruskan kembali rutinitasnya sebagai guru, kyai di langgar
miliknya yang sempat ia tinggalkan selama pergi ke Mekkah.
Kegiatan pengajian semakin hari semakin berkembang. Berikutnya KH.
Ahmad Dahlan mengadakan pengajian-pengajian khusus yang diperuntukkan bagi
kalangan-kalangan tertentu dalam masyarakat, seperti pengajian untuk para guru atau
pengajian untuk pegawai-pegawai pemerintah. Kegiatan pengajian seperti ini
dilakukan secara rutin sepekan sekali, baiasnya pada malam Jum‟at, dan mengambil
tempat langsung di rumah KH. Ahmad Dahlan.


KH. Ahmad Dahlan kemudian membangun sebuah pondok agar dapat
menampung santri-santrinya, baik yang berasal dari Yogyakarta atau dari daerah
daerah lain di Jawa bagian tengah. Selain mengajarkan pengetahuan agama secara
umum, KH. Ahmad Dahlan pun mengajarkan pengetahuan-pengetahuan secara
khusus kepada mereka, seperti ilmu tafsir, ilmu tauhid, dan ilmu falak.
Selanjutnya KH. Ahmad Dahlan mengembangkan telaah keislaman yang
langsung kepada sumber utamanya, Al-Qur‟an dan Sunnah dengan menggunakan
akal dan hati. Dengan metode seperti ini, seperti yang diyakini santri-santrinya serta
para penerusnya kelak, KH. Ahmad Dahlan menemukan Islam yang sebenarnya.
Mas Mansur, salah seorang kolega dan penerus KH. Ahmad Dahlan,
menjelaskan bagaimana metode seperti itu diterapkan KH. Ahmad Dahlan kepada
santri-santrinya.“KH. Ahmad Dahlan” tulis Mas Mansur dalam artikel berjudul “Kyai
Haji Ahmad Dahlan” yang dimuat dalam majalah Adil tanggal 3 September 1938;
“gemar sekali mengupas tafsir dan pandai pula tentang hal itu. Kalau menafsirkan sebuah ayat, beliau selidiki lebih dahulu dalam tiap-tiap perkataan dalam ayat itu satu per-satu. Beliau lihat kekuatan dan perasaan yang terkandung oleh perkataan itu dalam ayat-ayat yang lain, kemudian barulah beliau sesuaikan, sehingga keterangan beliau itu hebat, dalam, dan tepat. […] Inilah suatu sifat beliau yang melebihi ulama-ulama lainnya. Dan kesabaran beliau tentang hal ini memang luar biasa, membekas pada semua pekerjaan yang beliau tegakkan. Itu pulalah yang menetapkan hati dan pendirian beliau. […] Setelah beliau selidiki dan pahamkan Al-Qur‟an sedalam-dalamnya, kemudian beliau pandangkan mata kepada umat. […] Saya masih ingat kupasan beliau yang sangat mengherankan saya, yaitu ketika beliau menerangkan ayat „Ara aital ladzi yukadz dzibu bi al-din,‟ yang artinya, „Apakah engkau telah melihat atau tahu akan orang-orang yang mendustakan agama?‟.

Kata beliau, „Untuk mengetahui sifat-sifat orang yang demikian ini, marilah kita mencoba mengumpulkan ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu. Apabila sudah mendapatkan, apakah kita merasa pandai menetapkan sifat-sifat mereka? Sering dalam penyelidikan tentang hal ini kita menemui beberapa sifat yang bermacam-macam, yang dapat menjadi perselisihan di antara kita. Karena itu, apakah kita tidak lebih patut pula kita minta tahu saja kepada Tuhan tentang hal itu. Alhamdulillah, jawaban itu sudah ada, yaitu lanjutan dari ayat tadi, „Fadza-likalladzi yadu’ul yatim wala yakhuddu ala tho’ami al-miskin,‟ yang artinya, „Itulah orang yang menyia-nyiakan anak yatim dan tiada memperhatikan akan makanan orang-orang miskin. Apabila demikian, tentu banyak yang menyangkal atau menyatakan bahwa mereka (baca: kaum muslim) tidak masuk golongan orang-orang yang mendustakan agama, dengan alasan mereka sudah salat setiap waktu. Akan tetapi, Allah sudah mengetahui bahwa hal ini akan dijadikan alasan. Karena itu, disambung dengan ayat selanjutnya, „Fa wailul li al-mushollin Al-ladzinahum yuraun, wayamna’u na al-ma’un,‟ yang artinya, „Maka neraka waelah (sajalah) bagi orang yang salat yang lupa akan salatnya, mereka riya (pamer) dan tidak mau menolong.‟ Demikian sedikit contoh dari cara-cara beliau menerangkan Al-Qur‟an.”

Syaifullah yang pernah meneliti arsip-arsip tentang KH.Ahmad Dahlan waktu
itu juga menyimpulkan bahwa metode pemahaman dan pengamalan Islam KH.
Ahmad Dahlan adalah rasional-fungsional. Rasionalnya, artinya;
“menelaah sumber utama ajaran Islam dengan kebebasan ajaran akal pikiran dan kejernihan hati nurani, sekaligus membiarkan Al-Qur‟an berbicara tentang dirinya sendiri, dalam arti tafsir ayat denan ayat (termasuk hadis shahih). Fungsional, dalam pengertian kelanjutan dan tuntunan hasil pemahaman tersebut adalah aksi sosial, yaitu melakukan perbaikan masyarakat. Metode inilah yang khas KH. Ahmad Dahlan: pemahaman sekaligus pengamalan, pemikiran sekaligus aksi sosial.”

Untuk mewujudkan hal itu, tidak mudah tetapi harus realistis dan ini telah
disadari jauh-jauh hari oleh KH. Ahmad Dahlan. Mas Mansur yang pernah
mendengar KH. Ahmad Dahlan membicarakan hal itu, mengatakan;
“Beliau pun yakin bahwa usaha untuk memperbaiki umat itu tidak sebentar, tidak cukup satu tahun, dua tahun, tidak memadai sepuluh tahun atau dua puluh tahun saja, bahkan ratusan tahun. Dengan sedikit bicara dan banyak bekerja.Pekerjaan itu telah beliau mulai. Biar lambat dan tenang tetapi terus adalah lebih baik daripada cepat tetapi terjungkir sesudah beberapa lama.” (Abu Mujahid, Sejarah Muhammadiyah Gerakan “Tajdid” di Indonesia, Bagian I, Bandung: Toobagus Publishing, 2013, hlm 134-137)

Demikian jejak kaki langit pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang tersimpan
baik dalam memori santri-santri dan penerusnya pada generasi awal gerakan
pembaharuan Muhammadiyah. Selanjutnya, dari paparan peneliti terdahulu
Syaifullah, dan dipaparkan lagi oleh Abu Mujahid dalam bukunya „Sejarah
Muhammadiyah Gerakan “Tajdid” di Indonesia‟, ada beberapa poin penting yang
dapat diambil, yakni;


Pertama, KH. Ahmad Dahlan tidaklah seorang diri dalam mengurusi umat.
Beliau membentuk tim inti dan mengorganisir setiap melaksanakan tugas-tugasnya
dengan memberdayakan santri-santri yang pertama, dengan demikian semua tugas
terkendali dengan baik.


Kedua, adanya perkembangan pesat dalam pengajian-pengajian yang diasuh
KH. Ahmad Dahlan, namun tidak menutup pintu ikhtiar beliau atas keinginannya
menjangkau umat yang lebih luas. KH. Ahmad Dahlan kembali mendirikan pondok
dan menunjuk santrinya untuk menjadi pengurus pondok tersebut.
Ketiga, KH. Ahmad Dahlan mengembangkan telaah keislaman yang langsung
kepada sumber utamanya, Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah yang sahih dengan
menggunakan akal dan hati.


Keempat, Metode pemahaman dan pengamalan Islam KH. Ahmad Dahlan
adalah rasional-fungsional. Bukan berarti KH. Ahmad Dahlan tidak mengerti tafsir
dengan membiarkan Al-Qur‟an berbicara tentang dirinya sendiri, namun nampaknya KH. Ahmad Dahlan ingin menjaga keotentikan makna Al-Qur‟an dan menghindari perselisihan-perselisihan pemahaman.


Selian itu, KH. Ahmad Dahlan juga menempatkan akal dan hati dengan bijak,
yakni membiarkan potensi kebebasan akal pikiran dan hati nurani untuk mengambil
pemahamannya dari Al-Qur‟an. Berikutnya, hasil pemahaman tersebut adalah aksi
sosial, yaitu melakukan perbaikan masyarakat.


Kelima, keyakinan KH. Ahmad Dahlan bahwa untuk memperbaiki umat
tidaklah sebentar, dibutuhkan waktu yang sangat lama. Sebab itulah, KH. Ahmad
Dahlan mendirikan organisasi serta amal usaha untuk mengejawentahkan misinya
memperbaiki umat sepanjang zaman, sepanjang Muhammadiyah mampu berdiri
kokoh dalam rentang peradaban manusia. Wallahu a’lam.

About the author

Redaksi

Leave a Comment