Opini

Bagaimana Caranya Menghidupi Muhammadiyah

Written by Redaksi

Oleh: Mukh Mintadi

Saya terlahir dalam keluarga yang sangat sederhana di sebuah kota kecil di bagian selatan Jawa Tengah. Lahir dan tumbuh besar di kota itu membuatku paham seluk beluk kota dan budaya masyarakatnya. Keluargsaya muslim meski belum terlalu taat namun ternyata sudah menerapkan kebiasaan yang dilsayakan oleh orang-orang Muhammadiyah. Bapakku PNS rendahan dan Ibuku seorang guru SD. Beliau berdua selalu bekerja dengan keras karna kami anak-anaknya berjumlah tujuh bersaudara tentu memerlukan biaya hidup yang cukup banyak. Sebagai anak sulung ketika kelas 2  (sekarang kelas 8) sudah punya adik 6 orang tentu harus bisa menjadi contoh buat adik-adik bagaimana dalam bersikap dan berperilsaya.

Kakekku pernah bernasihat, sebagai anak sulung harus berhasil dalam hidup, karena akan dijadikan cermin oleh adik-adikku yang terdiri dari 2 laki-laki dan 4 perempuan. Itulah yang kemudian memotivasiku untuk bekerja keras, membantu bapak dan ibu, menyelesaikan pekerjaan di rumah, selalu siap disuruh kemana saja termasuk keluar kota. Semua pekerjaan rumah yang sifatnya agak berat jadi bebanku, misalnya mengepel, mengecat rumah luar dalam, memperbaiki genting, membetulkan antene televisi yang waktu itu minimal setinggi 20 meter, membersihkan sepeda bapak setiap pagi, dan menyalakan lampu petromax termasuk memperbaikinya bisa mengalami kendala. Semua saya kerjakan dengan sungguh-sungguh sehingga ketrampilanku termasuk lengkap untuk anak seusisaya.

Pendidikanku tidak terlalu baik, mungkin saya ditakdirkan untuk tidak menjadi anak yang pandai yang diukur dengan nilai-nilai namun banyak orang berkata saya termasuk orang yang cerdas. Ukuran cerdas ternyata dinilai dari kecepatan seseorang dalam menyelesaikan masalah, baik yang dialami sendiri maupun yang diberikan oleh orang lain. Prestasi belajarku tidak terlalu menonjol hanya cukup untuk lulus saja. Masalah mulai muncul ketika SMA, saya tertarik dengan teman seangkatan, menurutku dia cantik sekali. Bapaknya meninggal ketika kami kelas 3 SMA. Ibunya yang tidak bekerja meminta dia untuk menerima lamaran seorang dokter, namun dia tidak mau. Hal ini mendorongku untuk menjadi dokter sehingga saya belajar mati-matian untuk dapat diterima kuliah di Fsayaltas Kedokteran. Selepas SMA saya mencoba peruntungan pada semua level penerimaan Mahasiswa Baru. Waktu itu di tahun 1983 menggunakan Proyek Perintis (PP) 1 sampai dengan 4. Untuk PP 1 saya mendaftar Fsayaltas Kedokteran Gigi di UGM, PP 3 saya mendaftar Fsayaltas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dan PP 4 saya mendaftar di Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Yogyakarta. Saya hampir menjadi mahasiswa Fsayaltas Kedokteran ketika di koran yang kubaca terdapat namsaya, namun semua jadi berantakan ketika tersiar kabar bahwa Ujian Masuk PTN tersebut dinyatakan bocor sehingga harus di ulang. Sementara itu saya sudah diterima di IKIP Yogyakarta sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia. Hampir saja saya tidak mau memasukki Jurusan Pendidika Kimia, kalau saja ibuku tidak menangis memintsaya untuk menerima takdir. SIngkat kata akhirnya saya lulus jadi Sarjana Pendidikan Kimia dan berhak mengajar sampai level SMA waktu itu. Perburuan mencari pekerjaan dimulai, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, saya diterima untuk mengajar kimia di sebuah SMA Muhammadiyah.

Sepanjang mengikuti kegiatan kuliah, saya berkumpul dengan teman-teman yang lebih condong kearah paham yang dianut Muhammadiyah. Dari situasi itu juga saya mengetahui sedikit tentang Muhammadiyah. Bedannya dengan perkumpulan yang lain sedikit banyak saya mengetahui meski belum paham. Hari pertama saya mengajar saya belum masuk ke dalam kelas, sehingga kugunakan untuk orientasi sekolah sebagai warga baru. Saya berkenalan dengan semua sistim dan dalam waktu seminggu saya sudah memahami sistim yang berlsaya di sekolahan ini. Kegiatan yang membedakan antara sekolah Muhammadiyah adalah adanya tauziah iftitah ketika akan memulai rapat koordinasi. Kegiatan ini membawa dampak positip bagi peningkatan ketaqwaan dan perilsaya bagi para personil mulai dari pimpinan sampai dengan staf di bawahnya. Di SMA Muhammadiyah juga saya mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dan detil tentang Islam yang dijalankan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Jadi ketika berdiskusi dengan orang lain tentang ibadah saya dengan penuh percaya diri karena tahu dalam mencari referensi yang diperlukan. Pada saat melakukan kegiatan pembelajaran, ilmu umum tidak lebih penting dengan ilmu agama, para siswa juga mendapat pelajaran tentang Kemuhammadiyaha, Bahasa Arab, Tarekh, Ibadah Muamalah, selain Agama Islam itu sendiri. Dengan demikian, lulusan SMA Muhammadiyah memiliki akhlaq yang lebih baik dari pada lulusan SMA umum.

SMA Muhammadiyah sebagai sekolah swasta memiliki masalah kaitannya dengan rekruitmen siswa baru. Sebagian besar siswa berasal dari mereka yang gagal diterima di SMA Negeri selain adanya persaingan dengan SMA sejenis yang lain. Untuk mengatasi hal tersebut, SMA Muhammadiyah harus memiliki keunggulan kompetitif disbanding dengan  kompetitornya. Bila SMA Muhammadiyah tidak memiliki keunggulan yang signifikan dibanding kompetitornya, maka mau tidak mau, suka tidak suka sekolah harus melakukan promosi sekolah kepada masyarakat. Bentuk promosi yang pernah saya lakukan adalah memasang iklan pada bioskup, mengadakan bazar, pasar murah, dan kegiatan yang melibatkan masyarakat. Selain itu sekolah juga bisa menunjukkan eksistensinya di masyarakat melalui kegiatan sosial. Kelulusan ujian 100% dapat dijadikan prioritas program sekolah. Lulusan yang diterima di PTN juga dapat dijadikan media promosi. Oleh karena itu para siswa kelas XII harus dibekali pemahaman bahwa mendaftar ke PTN tidak selalu harus Universitas Besar (Proyek Perintis 1) namun juga Universitas, Sekolah Tinggi, dan Politeknik di bawahnya. Disamping itu juga tidak harus S1 namun juga bisa diploma 1, 2, 3, maupun D4 baik di dalam maupun di luar negeri. Jumlah siswa yang diterima kemudian disiarkan secara luas kepada masyarakat baik spanduk, running text, grup Whatsapps, untuk membuat mereka mempercayakan pendidikan putra-putrinya di SMA Muhammadiyah. Jumlah siswa rombel menjadi nafas buat sekolah untuk menentukan kelangsungan hidup bagi sekolah swasta.

Kiai Haji Achmad Dahlan pernah memberikan nasihat “Hidup hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup dari Muhammadiyah”. Nasihat ini sangat popular di keluarga besar Muhammadiyah dan dijadikan pedoman dalam berkecimpung di organisasi Muhammadiyah. Saya sudah pernah dihidupi Muhammadiyah selama dua tahun sebelum kemudian saya diterima disebuah PTN besar di Jawa Timur. Ketika saya pamit kepada Kepala Sekolah beliau menyampaikan bahwa tidak usah keluar sebagai pegawai sehingga bila pulang kampung bisa memberi motivasi kepada para siswa. Saya mengiyakan, kemudian memulai hidup bari di kota yang terletak di bagian timur provinsi Jawa Timur. Saya dikenal sebagai kader Muhammadiyah, istilah mereka adalah MD, berarti kemuhammadiyahan saya diakui. Saya punya anak kemudian sekolahnya memilih amal usaha Muhammadiyah, yaitu di TK ABBA kemudian melanjutkan ke SD Muhammadiyah yang ada di kota itu. Saya tidak menawar ketika disodori harus membayar biaya tertentu bahkan SPP nya saya memilih yang paling mahal, untuk menghidupi persyarikatan. Sayang kinerja SD Muhammadiyah belum mampu untuk membuat siswanya kerasan dalam belajar, anak saya minta keluar sehingga saya kehilangan kesempatan untuk membesarkan Muhammadiyah.

Sebagai sumbang saran kepada Muhammadiyah, bahwa bekerja di lingkungan amal usaha Muhammdiyah (Sekolah, Rumah Sakit, Baitul Maal, dan amal usaha yang lain) tentunya mendapatkan gaji dari amal usaha tersebut, namun upaya untuk menghidupi Muhammadiyah bisa dilakukan dengan menyumbangkan ide kreatif, dan berperilaku positif yang akan menaikkan level amal usaha tersebut sehingga dikenal dengan baik oleh masyarakat. Misalnya, memeriksakan kesehatan keluarga di klinik milik Muhammadiyah, memilih sekolah Muhammadiyah untuk Pendidikan putra-putri kita, meminjam dana pada BMM dan kegiatan lain yang berdampak pada berkembangnya amal usaha milik Muhammadiyah. Bila semua warga Muhammadiyah melakukan hal yang sama, maka amal usaha ini akan menjadi besar dan dapat berperan penting dalam pembangunan nasional. Bila hal ini sudah tercapai maka Muhammadiyah akan bisa turut serta dan akan disertakan dalam setiap pengambilan keputusan bagi pembangunan nasional Indonesia. Oleh karena itu, Pendidikan dan Pelatihan kepada generasi Muhammadiyah harus terus dilakukan secara intensif dan berkesinambungan agar regerasi dari pelaku amal usaha Muhammadiyah tidak pernah putus dan tidak terjadi kesenjangan kualitas dari generasi ke generasi. Generasi muda Muhammadiyah harus senantiasa meningkatkan kualitas diri dan peranannya untuk memenangkan persaingan global seperti era sekarang ini. Selain dari pada itu, sikap dan perilaku setiap warga Muhammadiyah harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi warga masyarakat disekitarnya.

Pada bagian akhir dari tulisan ini, saya memohon agar semua personil yang mengawal amal usaha Muhammdiyah bersiap cerdas dalam menghadapi dinamikan kehidupan di masyarakat, jangan pernah menyakiti hati masyarakat, menjadi pelopor dalam gerakan yang bersifat memberdayakan masyarakat serta menjadikan dirinya berarti bagi masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Dengan demikian Muhammadiyah bisa menjadi Ormas yang otonom, mandiri secara finansial, penuh dengan ide kreatif untuk pemberdayaan masyarakat dan menjaga integritas dan menjadi pemersatu bangsa,  aamiin.

*) Mukh Mintadi, Kepala Unit Layanan Pengadaan  Universitas Jember

About the author

Redaksi

Leave a Comment